Senin, 25 April 2011 0 komentar

• Tsunami, pengertian, dampak dan penyebab terjadinya

Tsunami (bahasa Jepang: 津波; tsu = pelabuhan, nami =
gelombang, secara harafiah
berarti "ombak besar di
pelabuhan") adalah
perpindahan badan air yang
disebabkan oleh perubahan permukaan laut secara vertikal
dengan tiba-tiba. Perubahan
permukaan laut tersebut bisa
disebabkan oleh gempa bumi
yang berpusat di bawah laut,
letusan gunung berapi bawah laut, longsor bawah laut, atau
atau hantaman meteor di laut.
Gelombang tsunami dapat
merambat ke segala arah.
Tenaga yang dikandung dalam
gelombang tsunami adalah tetap terhadap fungsi
ketinggian dan kelajuannya. Di
laut dalam, gelombang
tsunami dapat merambat
dengan kecepatan 500-1000 km
per jam. Setara dengan kecepatan pesawat terbang.
Ketinggian gelombang di laut
dalam hanya sekitar 1 meter.
Dengan demikian, laju
gelombang tidak terasa oleh
kapal yang sedang berada di tengah laut. Ketika mendekati
pantai, kecepatan gelombang
tsunami menurun hingga
sekitar 30 km per jam, namun
ketinggiannya sudah
meningkat hingga mencapai puluhan meter. Hantaman
gelombang Tsunami bisa
masuk hingga puluhan
kilometer dari bibir pantai.
Kerusakan dan korban jiwa
yang terjadi karena Tsunami bisa diakibatkan karena
hantaman air maupun material
yang terbawa oleh aliran
gelombang tsunami. Dampak negatif yang
diakibatkan tsunami adalah
merusak apa saja yang
dilaluinya. Bangunan, tumbuh-
tumbuhan, dan mengakibatkan
korban jiwa manusia serta menyebabkan genangan,
pencemaran air asin lahan
pertanian, tanah, dan air bersih. Sejarawan Yunani bernama
Thucydides merupakan orang
pertama yang mengaitkan
tsunami dengan gempa bawah
lain. Namun hingga abad
ke-20, pengetahuan mengenai penyebab tsunami masih
sangat minim. Penelitian masih
terus dilakukan untuk
memahami penyebab tsunami. Teks-teks geologi, geografi,
dan oseanografi di masa lalu
menyebut tsunami sebagai
"gelombang laut seismik". Beberapa kondisi meteorologis,
seperti badai tropis, dapat
menyebabkan gelombang
badai yang disebut sebagai
meteotsunami yang
ketinggiannya beberapa meter diatas gelombang laut normal.
Ketika badai ini mencapai
daratan, bentuknya bisa
menyerupai tsunami, meski
sebenarnya bukan tsunami.
Gelombangnya bisa menggenangi daratan.
Gelombang badai ini pernah
menggenangi Burma
(Myanmar) pada Mei 2008. Wilayah di sekeliling Samudra
Pasifik memiliki Pacific
Tsunami Warning Centre
(PTWC) yang mengeluarkan
peringatan jika terdapat
ancaman tsunami pada wilayah ini. Wilayah di
sekeliling Samudera Hindia
sedang membangun Indian
Ocean Tsunami Warning
System (IOTWS) yang akan
berpusat di Indonesia. Bukti-bukti historis
menunjukkan bahwa
megatsunami mungkin saja
terjadi, yang menyebabkan
beberapa pulau dapat
tenggelam TERMINOLOGI Kata tsunami berasal dari
bahasa jepang, tsu berarti
pelabuhan, dan nami berarti
gelombang. Tsunami sering
terjadi Jepang. Sejarah Jepang
mencatat setidaknya 195 tsunami telah terjadi. Pada beberapa kesempatan,
tsunami disamakan dengan
gelombang pasang. Dalam
tahun-tahun terakhir, persepsi
ini telah dinyatakan tidak
sesuai lagi, terutama dalam komunitas peneliti, karena
gelombang pasang tidak ada
hubungannya dengan
tsunami. Persepsi ini dahulu
populer karena penampakan
tsunami yang menyerupai gelombang pasang yang
tinggi. Tsunami dan gelombang
pasang sama-sama
menghasilkan gelombang air
yang bergerak ke daratan,
namun dalam kejadian
tsunami, gerakan gelombang jauh lebih besar dan lebih lama,
sehingga memberika kesan
seperti gelombang pasang
yang sangat tinggi. Meskipun
pengartian yang menyamakan
dengan "pasang-surut" meliputi "kemiripan" atau
"memiliki kesamaan karakter"
dengan gelombang pasang,
pengertian ini tidak lagi tepat.
Tsunami tidak hanya terbatas
pada pelabuhan. Karenanya para geologis dan oseanografis
sangat tidak
merekomendasikan untuk
menggunakan istilah ini. Hanya ada beberapa bahasa
lokal yang memiliki arti yang
sama dengan gelombang
merusak ini. Aazhi Peralai
Bahasa Tamil, Beuna atau alôn
buluëk Bahasa Aceh adalah contohnya. Sebagai catatan,
dalam bahasa Tagalog versi
Austronesia, bahasa utama di
Filipina, alon berarti
"gelombang". Di Pulau
Simeulue, daerah pesisir barat Sumatra, Indonesia, dalam
Bahasa Defayan, semong
berarti tsunami. Sementara
dalam Bahasa Sigulai, emong
berarti tsunami. Penyebab terjadinya tsunami Skema terjadinya tsunami Tsunami dapat terjadi jika
terjadi gangguan yang
menyebabkan perpindahan
sejumlah besar air, seperti
letusan gunung api, gempa
bumi, longsor maupun meteor yang jatuh ke bumi. Namun,
90% tsunami adalah akibat
gempa bumi bawah laut.
Dalam rekaman sejarah
beberapa tsunami diakibatkan
oleh gunung meletus, misalnya ketika meletusnya
Gunung Krakatau. Gerakan vertikal pada kerak
bumi, dapat mengakibatkan
dasar laut naik atau turun
secara tiba-tiba, yang
mengakibatkan gangguan
keseimbangan air yang berada di atasnya. Hal ini
mengakibatkan terjadinya
aliran energi air laut, yang
ketika sampai di pantai menjadi
gelombang besar yang
mengakibatkan terjadinya tsunami. Kecepatan gelombang tsunami
tergantung pada kedalaman
laut di mana gelombang
terjadi, dimana kecepatannya
bisa mencapai ratusan
kilometer per jam. Bila tsunami mencapai pantai,
kecepatannya akan menjadi
kurang lebih 50 km/jam dan
energinya sangat merusak
daerah pantai yang dilaluinya.
Di tengah laut tinggi gelombang tsunami hanya
beberapa cm hingga beberapa
meter, namun saat mencapai
pantai tinggi gelombangnya
bisa mencapai puluhan meter
karena terjadi penumpukan masa air. Saat mencapai pantai
tsunami akan merayap masuk
daratan jauh dari garis pantai
dengan jangkauan mencapai
beberapa ratus meter bahkan
bisa beberapa kilometer. Gerakan vertikal ini dapat
terjadi pada patahan bumi atau
sesar. Gempa bumi juga
banyak terjadi di daerah
subduksi, dimana lempeng
samudera menelusup ke bawah lempeng benua. Tanah longsor yang terjadi di
dasar laut serta runtuhan
gunung api juga dapat
mengakibatkan gangguan air
laut yang dapat menghasilkan
tsunami. Gempa yang menyebabkan gerakan tegak
lurus lapisan bumi. Akibatnya,
dasar laut naik-turun secara
tiba-tiba sehingga
keseimbangan air laut yang
berada di atasnya terganggu. Demikian pula halnya dengan
benda kosmis atau meteor
yang jatuh dari atas. Jika
ukuran meteor atau longsor ini
cukup besar, dapat terjadi
megatsunami yang tingginya mencapai ratusan meter. Gempa yang menyebabkan
tsunami * Gempa bumi yang berpusat
di tengah laut dan dangkal (0 -
30 km)
* Gempa bumi dengan
kekuatan sekurang-kurangnya
6,5 Skala Richter * Gempa bumi dengan pola
sesar naik atau sesar turun Sistem Peringatan Dini Sistem peringatan tsunami Banyak kota-kota di sekitar
Pasifik, terutama di Jepang dan
juga Hawaii, mempunyai
sistem peringatan tsunami dan
prosedur evakuasi untuk
menangani kejadian tsunami. Bencana tsunami dapat
diprediksi oleh berbagai
institusi seismologi di berbagai
penjuru dunia dan proses
terjadinya tsunami dapat
dimonitor melalui perangkat yang ada di dasar atu
permukaan laut yang
terknoneksi dengansatelit. Perekam tekanan di dasar laut
bersama-sama
denganperangkat yang
mengapung di laut buoy,
dapat digunakan untuk
mendeteksi gelombang yang tidak dapat dilihat oleh
pengamat manusia pada laut
dalam. Sistem sederhana yang
pertama kali digunakan untuk
memberikan peringatan awal
akan terjadinya tsunami pernah dicoba di Hawai pada
tahun 1920-an. Kemudian,
sistem yang lebih canggih
dikembangkan lagi setelah
terjadinya tsunami besar pada
tanggal 1 April 1946 dan 23 Mei 1960. Amerika serikat
membuat Pasific Tsunami
Warning Center pada tahun
1949, dan menghubungkannya
ke jaringan data dan peringatan
internasional pada tahun 1965. Salah satu sistem untuk
menyediakan peringatan dini
tsunami, CREST Project,
dipasang di pantai Barat
Amerika Serikat, Alaska, dan
Hawai oleh USGS, NOAA, dan Pacific Northwest Seismograph
Network, serta oleh tiga
jaringan seismik universitas. Hingga kini, ilmu tentang
tsunami sudah cukup
berkembang, meskipun proses
terjadinya masih banyak yang
belum diketahui dengan pasti.
Episenter dari sebuah gempa bawah laut dan kemungkinan
kejadian tsunami dapat cepat
dihitung. Pemodelan tsunami
yang baik telah berhasil
memperkirakan seberapa besar
tinggi gelombang tsunami di daerah sumber, kecepatan
penjalarannya dan waktu
sampai di pantai, berapa
ketinggian tsunami di pantai
dan seberapa jauh rendaman
yang mungkin terjadi di daratan. Walaupun begitu,
karena faktor alamiah, seperti
kompleksitas topografi dan
batimetri sekitar pantai dan
adanya corak ragam tutupan
lahan (baik tumbuhan, bangunan, dll), perkiraan waktu
kedatangan tsunami,
ketinggian dan jarak rendaman
tsunami masih belum bisa
dimodelkan secara akurat. Sistem Peringatan Dini
Tsunami di Indonesia Pemerintah Indonesia, dengan
bantuan negara-negara donor,
telah mengembangkan Sistem
Peringatan Dini Tsunami
Indonesia (Indonesian Tsunami
Early Warning System - InaTEWS). Sistem ini berpusat
pada Badan Meteorologi,
Klimatologi, dan Geofisika
(BMKG) di Jakarta. Sistem ini
memungkinkan BMKG
mengirimkan peringatan tsunami jika terjadi gempa
yang berpotensi
mengakibatkan tsunami.
Sistem yang ada sekarang ini
sedang disempurnakan.
Kedepannya, sistem ini akan dapat mengeluarkan 3 tingkat
peringatan, sesuai dengan hasil
perhitungan Sistem Pendukung
Pengambilan Keputusan
(Decision Support System -
DSS). Pengembangan Sistem
Peringatan Dini Tsunami ini
melibatkan banyak pihak, baik
instansi pemerintah pusat,
pemerintah daerah, lembaga
internasional, lembaga non- pemerintah. Koordinator dari
pihak Indonesia adalah
Kementrian Negara Riset dan
Teknologi(RISTEK). Sedangkan
instansi yang ditunjuk dan
bertanggung jawab untuk mengeluarkan INFO GEMPA
dan PERINGATAN TSUNAMI
adalah BMKG (Badan
Meteorologi, Klimatologi dan
Geofisika). Sistem ini didesain
untuk dapat mengeluarkan peringatan tsunami dalam
waktu paling lama 5 menit
setelah gempa terjadi. Sistem Peringatan Dini
memiliki 4 komponen:
Pengetahuan mengenai
Bahaya dan Resiko, Peramalan,
Peringatan, dan
Reaksi.Observasi (Monitoring gempa dan permukaan laut),
Integrasi dan Diseminasi
Informasi, Kesiapsiagaan.
0 komentar

• Sejarah fisika kuantum


Setiap memasuki pemahaman
dunia atom, ilmuan mengalami
kesulitan yang luar biasa.
Teori-teori mapan tidak
berdaya, bahasa yang
digunakan mengalami kebuntuan, bahkan imajinasi
terhadap dunia atom
dipengaruhi pandangan
emosional. Pengalaman ini
dilukiskan Heisenberg: “Saya ingat pembicaraan saya
dengan Bohr yang
berlangsung selama berjam-
jam hingga larut malam dan
mengakhirinya dengan putus
asa; dan ketika perbincangan itu berakhir saya berjalan-jalan
sendirian di taman terdekat dan
mengulangi pertanyaan pada
diri saya sendiri berkali-kali:
Mungkinkah alam itu absurd
sebagaimana yang tampak pada kita dalam eksperimen-
eksperimen atom ini?” (Fritjof Capra, 2000:86). Situasi psikologis Heisenberg,
pada akhirnya merupakan
salah satu kata kunci dalam
perkembangan revolusioner
dunia atom. Benda/materi
yang diamati tidak terlepas dari pengalaman pengamat, benda/
materi bukan lagi sebagai objek
penderita yang dapat diotak-
atik sesuai keinginan
pengamat. Lebih jauhnya,
benda/materi sendiri yang berbicara dan mempunyai
keinginan sesuai fungsi dan
kedudukannya dalam suatu
fenomena. Absurditas
subatom terlihat ketika
dipandang sebagai benda/ materi tidak memadai lagi,
subatom bukan ‘benda’. Tetapi, merupakan kesalinghubungan
dalam membentuk jaringan
dinamis yang terpola. Sub-
subatom merupakan jaring-
jaring pembentuk dasar materi
yang merubah pandangan manusia selama ini yang
memandang sub atom sebagai
blok-blok bangunan dasar
pembentuk materi. Meminjam istilah Kuhn,
mekanika kuantum merupakan
paradigma sains revolusioner
pada awal abad 20. Lahirnya
mekanika kuantum, tidak
terlepas dari perkembangan- perkembangan teori, terutama
teori atom. Mekanika kuantum,
bukan untuk menghapus teori
dan hukum sebelumnya.
Mekanika kuantum tidak lebih
untuk merevisi dan menambal pandangan manusia terhadap
dunia, terutama dunia
mikrokosmik. Bisa jadi,
sebenarnya hukum-hukum
yang berlaku bagi dunia
[sunnatullah] telah tersedia dan berlaku bagi setiap fenomena
alam, tetapi pengalaman
manusialah yang terbatas.
Oleh sebab itu, sampai di sini
kita harus sadar dan meyakini
bahwa sifat sains itu sangat tentatif. Mengapa teori kuantum
merupakan babak baru cara
memandang alam? Vladimir
Horowitz pernah mengatakan
bahwa mozart terlalu mudah
untuk pemula, tetapi terlalu sulit untuk para ahli. Hal yang
sama juga berlaku untuk teori
kuantum. Secara sederhana
teori kuantum menyatakan
bahwa partikel pada tingkat
sub atomik tidak tunduk pada hukum fisika klasik. Entitas
seperti elektron dapat berwujud
[exist] sebagai dua benda
berbeda secara simultan— materi atau energi, tergantung
pada cara pengukurannya
(Paul Strathern, 2002:viii).
Kerangka mendasar melakukan
penalaran dalam sains adalah
berpikir dengan metoda induksi. Apabila melakukan
penalaran dengan metoda ini,
maka pengamatan terhadap
wajah alam fisik dilakukan
melalui premis-premis yang
khusus tentang materi-materi kecil [mikro] bahan alam fisik
yang kasat mata. Hukum-
hukum sains klasik yang telah
terpancang lama, ternyata
terlihat kelemahannya ketika
berhadapan dengan fenomena mikrokosmik. Gary Zukaf (2003:22)
memberikan pengertian secara
etimologis dari mekanika
kuantum. ‘Kuantum’ merupakan ukuran kuantitas
sesuatu, besarnya tertentu.
‘Mekanika’ adalah kajian atau ilmu tentang gerak. Jadi,
mekanika kuantum adalah
kajian atau ilmu tentang gerak
kuantum. Teori kuantum
mengatakan bahwa alam
semesta terdiri atas bagian- bagian yang sangat kecil yang
disebut kuanta [quanta, bentuk
jamak dari quantum], dan
mekanika kuantum adalah
kajian atau ilmu yang
mempelajari fenomena ini. Teori kuantum memang masih
pro dan kontra dalam
penerimaannya, dan bersifat
kontroversial ketika
menggugat otoritas sains yang
dianggap telah mapan. Adanya pro dan kontra terlihat
ketika Einstein yang
merupakan ilmuan besar abad
20 tidak menyukai teori ini,
meskipun Einstein merupakan
salah satu dukun yang membidangi lahirnya teori
kuantum. Dalam salah satu
perdebatan yang panjang
dengan Bohr yang
berlangsung di Kopenhagen,
Denmark; sehingga terkenal dengan “Tafsiran Kopenhagen”, Einstein mengatakan bahwa teori
kuantum tidak dapat
mengakomodir fraksi-fraksi
dalam sains, dia masih
berpegang teguh bahwa
madzhab newtonian merupakan mazhab yang
relatif akomodatif. Bohr
mengeluarkan argumen bahwa
manusialah yang tidak dapat
mengakomodir
pengalamannya yang sangat kaya, dan terakhir Bohr
menyindir Einstein, bahwa
orang yang tidak goncang
jiwanya oleh teori kuantum
berarti orang tersebut belum
memahaminya.
https://blogger.googleusercontent.com/tracker/218493204436556250-4152495654614150440?l=www.fisika-indonesia.co.cc
0 komentar

• eksperiment fisika indonesia : Jembatan Wheatstone


Posted: Fri, 18 Mar 2011 04:33:55 PDT
I. Tujuan Percobaan
Setelah melakukan percobaan ini mahasiswa diharapkan mampu :
    1. Memahami prinsip kerja Jembatan Wheatstone.
    2. Menyusun sendiri rangkaian Jembatan Wheatstone.
    3. Menentukan besarnya hambatan yang belum diketahui dengan Jembatan Weatstone.
    4. Menghitung hambatan pengganti untuk rangkaian seri dan paralel.


II. Dasar Teori
hambatan listrik merupakan karakteristik suatu bahan pengantar listrik/ konduktor,yang dapat di gunakan untukmengatur besarnya arus listrik yang melewati suatu rangkaian.
Hambatan sebuah konduktor di antara dua titik diukur dengan memasang sebuah beda potensial diantara titik-titik tersebut dan membandingkannya dengan arus listrik yang terukur. ( R=V/ I ). Cara pengukuran hambatan listrik dengan voltmeter dan ampermeter dapat menggunakan rangkain sperti gambar (1) dan gambar (2).


clip_image001
Gambar 1. Pengukuran Hambatan cara pertama
1. Buktikan pengukuran gambar 1 menghasilkan harga R dalam persamaan (1)
clip_image003(1)


clip_image004
Gambar 2. Pengukuran hambatan cara kedua
2. Buktikan pengukuran gambar 2 menghasilkan harga R dalam persamaan (2) !
clip_image006(2)
Metode jembatan Wheatstone dapat di gunakan untuk mengukur hambatan listrik. Cara ini tidak memerlukan alat ukur voltmeter dan amperemater,cukup satu Galvanometer untuk melihat apakah ada arus listrik yang melalui suatu rangkaian. Prinsip dari rangkaian jembatan Wheatstone di perlihatkan pada gambar (3).


clip_image007
Gambar 3. Rangkaian Jembatan Wheatstone
Keterangan Gambar :
S: Saklar penghubung
G:Galvanometer
E: Sumber tegangan arus
Rs:Hambatan geser
Ra dan Rb:Hambatan yang sudah di ketahui nilainya.
Rx: Hambatan yang akan di tentukan nilainya.
Saat saklar S di tutup,maka arus akan melewati rangkaian.Jika jarum Galvanometer menyimpang artinya ada arus yang melewatinya,yaitu antara titik C dan D ada beda potensial.Dengan mengatur besarnya Ra dan Rb juga hambatan geser Rs akan dapat di capai galvanometer G tak teraliri arus,artinya tak ada beda potensial antara titik C dan D. Dengan demikian akan berlaku persamaan :
clip_image009clip_image011(3)
Untuk menyederhanakan rangkaian dan untuk menghubungkan besarnya R bergantung pada panjang penghantar, maka rangkaian jembatan Wheatstone dapat di ubah menggunakan kawat penghantar seperti gambar (4 ) di bawah ini:


clip_image012
Gambar 4. Rangkaian Jembatan Wheatstone menggunakan kontak geser di atas kawat penghantar
Pada kawat penghantar AB di berikan suatu kontak geser yang berasl dari ujung Galvanometer. Gunanya untuk mengatur agar tercapai pengukuran panjang L1dan L2 yang akan menghasilkan arus di Galvanometer sama dengan NOL. Oleh karena itu pada kawat AB perlu di lengkapi skala ukuran panjang.
Dengan menghubungkan persamaan (3) dengan persamaan (4) diperoleh hasil sebagai berikut:
clip_image014………………………………………………………… (5)
Peralatan yang diperlukan :
a. Satu set Rangakaian Jembatan Wheatstone, yang terdiri dari :
1. DC Power Supply
2. Galvanometer
3. 2 Hambatan Pembanding ( Ra )
4. Hambatan yang akan diukur ( tertutup gelangnya )
III. Metode Percobaan
Prosedur Percobaan
1. Susun rangkaian seperti pada gambar (4). Setelah rangkaian yang anda susun di setujui assisten, hubungkan catu daya ke jaringan PLN.
2. Tempatkan kotak geser di tengah-tengah kawat hambatan.
3. ON kan posisi saklar catu daya.
4. Geser kotak gesernya sehingga arus yang melalui Galvanometer menjadi Nol.
5. Catat harga L1 dan L2 (sertakan ketidakpastiannya).
6. Ulangi langkah nomor 3-5 untuk harga Rx yang lain.
7. Ulangi langkah nomor 1-5 untuk Rx yang di hubungkan seri (gunakan hambatan di atas ).
8. Ulangi langkah nomor 1-5 untuk hambatan Rx yang di hubungkan paralel ( gunakan hambatan di atas).
0 komentar

• Nasa siapkan "layar" untuk penjelajahan luar angkasa

WASHINGTON - Sebuah eksperimen 'layar
bertenaga matahari'
sukses dibentangkan oleh
NASA di luar angkasa.
Demikian pengumuman oleh
pihak NASA. Satelit NanoSail-D
mengibarkan layar seluas
100 kaki dan beroperasi
secara normal," menurut
pernyataan dari Marshal
Space Flight Center di Huntsville, Alabama.
Demikian seperti yang
dikutip dari USA Today,
Minggu (23/1/2011). Layar bertenaga surya
tersebut akan ada di orbit
selama 70 hari, sebagai
bagian dari eksperimen
yang menggunakan layar
untuk memperlambat dan mempercepat pesawat.
Eksperimen ini ditujukan
untuk melihat apakah layar
tersebut bisa membantu
satelit di orbit Bumi. "Kami sangat senang
bahwa layar tersebut
berhasil dikembangkan
oleh satelit NanoSail-D,"
ujar Bill Nye, Executive
Director of the Planetary Society. Planetary Society
berharap untuk bisa
meluncurkan sendiri
eksperimen layar tenaga
surya dari mereka,
Lightsail. "Ini adalah kali pertama
NASA bisa
mengembangkan layar
bertenaga surya di orbit
rendah Bumi," ujar Dean
Alhorn dari Marshall Center.
0 komentar

• Planet berpotensi untuk kehidupan ditemukan dekat bumi


Sebuah tim pemburu planet
yang dipimpin oleh astronom
dari Universitas California,
Santa Cruz, dan Institut
Carnegie of Washington
telah mengumumkan penemuan sebuah planet
berukuran Bumi (tiga kali
massa Bumi) yang mengorbit
bintang terdekat pada jarak
yang menempatkan ia tepat
di tengah bintang-bintang “zona layak huni ” di mana zat cair dapat eksis di
permukaan planet. Jika
dikonfirmasi, ini akan
menjadi planet ekstrasurya
yang paling mirip bumi yang
belum pernah ditemukan dan menjadi kasus kuat pertama
bagi planet yang berpotensi
layak huni. Bagi para astronom, sebuah
planet “berpotensi layak huni” adalah sesuatu yang bisa mempertahankan hidup,
belum tentu sesuatu di mana
manusia akan
mempertimbangkan tempat
yang bagus untuk hidup.
Layak dihuni tergantung pada banyak faktor, tetapi
zat cair dan atmosfir adalah
hal yang paling penting. “Temuan kami menawarkan kasus yang sangat menarik
bagi planet berpotensi layak
huni,” kata Steven Vogt, profesor astronomi dan
astrofisika di UC Santa
Cruz. “Fakta bahwa kami mampu mendeteksi planet ini
begitu cepat dan begitu
dekat memberitahu kita
bahwa planet seperti ini
pasti benar-benar umum. ” Temuan ini didasarkan pada
11 tahun pengamatan di
Observatorium WM Keck di
Hawaii. “Kemajuan teknik dikombinasikan dengan
teleskop berbasis darat
kuno terus memimpin
revolusi planet, ” kata Paul Butler dari Institut
Carnegie. “Kemampuan kita untuk menemukan dunia
berpotensi layak huni
sekarang hanya dibatasi
oleh waktu teleskop kita.” Vogt dan Butler memimpin
Lick-Carnegie Exoplanet
Survey. Temuan baru tim
dilaporkan dalam sebuah
makalah yang akan
diterbitkan dalam Jurnal Astrophysical dan di-
posting secara online di arXiv.org . Para penulis mitra termasuk ilmuwan
penelitian asosiasi, Eugenio
Rivera, dari UC Santa Cruz;
astronom asosiasi, Nader
Haghighipour, dari
Universitas Hawaii-Manoa, dan para ilmuwan penelitian,
Gregory Henry serta
Michael Williamson, dari
Universitas Tennessee
State. Makalah ini melaporkan
penemuan dua planet baru di
sekitar bintang kurcaci
merah Gliese 581. Ini
membawa jumlah planet yang
dikenal di seluruh bintang tersebut menjadi enam, yang
paling belum ditemukan di
satu sistem planet selain
tata surya kita. Seperti
halnya tata surya kita,
planet-planet di sekitar Gliese 581 memiliki orbit
yang hampir melingkar. Yang paling menarik dari dua
planet baru Gliese 581g itu,
dengan massa tiga sampai
empat kali Bumi, dan periode
orbitnya hanya di bawah 37
hari. Massanya menunjukkan bahwa itu
mungkin sebuah planet
berbatu dengan permukaan
tertentu, dan bahwa ia
memiliki gravitasi yang
cukup untuk mempertahankan atmosfir,
demikian menurut Vogt. Gliese 581, yang terletak 20
tahun cahaya dari Bumi di
rasi Libra, memiliki sejarah
klaim berbeda-beda
mengenai planet yang bisa
dihuni. Dua planet sebelumnya terdeteksi
berada dalam sistem yang
terletak di tepi zona layak
huni, satu di sisi panas
(planet c) dan satunya lagi
pada sisi dingin (planet d). Sementara beberapa
astronom masih berpikir
mungkin planet d layak huni
jika memiliki atmosfer tebal
dengan efek rumah kaca
yang kuat untuk menghangatkannya, yang
lain skeptis. Bagaimanapun
juga, planet g akhirnya
ditemukan terletak tepat di
tengah zona layak huni. “Kami telah menemukan planet di kedua sisi zona
layak huni – satu terlalu panas dan satu terlalu dingin
– dan sekarang kita menemukan satu di
tengahnya yang tepat,” kata Vogt. Planet ini secara pasang
surut terkunci pada bintang,
yang berarti satu sisi selalu
menghadap bintang dan
berjemur di siang hari
terus-menerus, sedangkan bagian samping yang
menghadap jauh dari bintang
berada dalam kegelapan
terus-menerus. Salah satu
efek dari hal ini adalah untuk
menstabilkan iklim permukaan planet, kata
Vogt. Zona yang paling layak
huni di permukaan planet
akan menjadi garis antara
bayangan dan cahaya
(dikenal sebagai “terminator “), dengan suhu permukaan menurun ke sisi
gelap dan meningkat ke sisi
terang. “Setiap bentuk kehidupan yang muncul akan memiliki
berbagai iklim yang stabil
untuk memilih dari dan untuk
berkembang, tergantung
pada bujur mereka, ” kata Vogt. Para peneliti
memperkirakan bahwa rata-
rata suhu permukaan planet
itu adalah antara -24 dan 10
derajat Fahrenheit (-31 ke
-12 derajat Celsius). Suhu sebenarnya akan berkisar
antara panas terik di sisi
menghadap bintang ke dingin
membeku di sisi gelap. Jika Gliese 581g memiliki
komposisi bebatuan yang
mirip Bumi, diameternya
akan menjadi sekitar 1,2-1,4
kali dari Bumi. Gravitasi
permukaan akan hampir sama atau sedikit lebih tinggi
dari Bumi, sehingga orang
dapat dengan mudah
berjalan tegak di planet
tersebut, kata Vogt. Temuan baru ini didasarkan
pada 11 tahun pengamatan
Gliese 581 dengan
menggunakan spektrometer
HiRes (dirancang oleh Vogt)
pada Keck I Telescope di Observatorium WM Keck di
Hawaii. Spektrometer ini
memungkinkan pengukuran
tepat kecepatan radial
bintang (gerakan di
sepanjang garis pandang dari Bumi), yang dapat
mengungkapkan adanya
planet. Tarikan gravitasi
planet yang mengorbit
menyebabkan perubahan
periodik dalam kecepatan radial bintang utama.
Beberapa planet
menyebabkan getaran
kompleks dalam gerakan
bintang, dan astronom
menggunakan analisis canggih untuk mendeteksi
planet serta menentukan
orbit dan massanya. “Sangat sulit mendeteksi planet seperti ini, ” kata Vogt. “Setiap kali kita mengukur kecepatan radial,
itu merupakan malam hari
pada teleskop, dan butuh
lebih dari 200 pengamatan
dengan presisi sekitar 1,6
meter per detik untuk mendeteksi planet
tersebut. ” Untuk memperoleh banyak
pengukuran kecepatan
radial tersebut (total 238),
tim Vogt menggabungkan
observasi HiRes mereka
dengan data yang diterbitkan dari kelompok
lain yang dipimpin oleh
Observatorium Jenewa
(HARPS, proyek High
Accuracy Radial velocity
Planetary Search). Selain mengamati kecepatan
radial, penulis mitra Henry
dan Williamson melakukan
pengukuran tepat
kecerahan malam-ke-malam
bintang tersebut dengan salah satu teleskop robot
milik Universitas Tennessee
State. “Pengukuran kecerahan kami
memverifikasi bahwa variasi
kecepatan radial disebabkan
oleh planet yang baru
mengorbit dan bukan oleh
berbagai proses di dalam bintang itu sendiri, ” kata Henry. Para peneliti juga
mengeksplorasi implikasi
dari penemuan ini berkenaan
dengan jumlah bintang yang
mungkin memiliki setidaknya
satu planet yang berpotensi layak huni. Mengingat
bintang yang telah hati-hati
dipantau oleh para pemburu
planet jumlahnya relatif
kecil, penemuan ini akan
segera mengejutkan. “Jika ini jarang, semestinya kita tidak menemukannya
begitu cepat dan begitu
dekat,” kata Vogt. “Jumlah sistem dengan planet
berpotensi layak huni
mungkin ada pada urutan 10
atau 20 persen, dan ketika
Anda kalikan dengan
ratusan miliar bintang di Bima Sakti, itu adalah jumlah
yang besar. Mungkin ada
puluhan miliar sistem seperti
ini di galaksi kita.”
https://blogger.googleusercontent.com/tracker/218493204436556250-8708583842211484301?l=www.fisika-indonesia.co.cc
 
;